Aparatus Sinema

Sinema dan aparatus. Dalam semiotika-film, Metz menunjukkan bahwa teks menjadi sumber yang wajib untuk dipelajari terlebih dahulu. Namun, ia tak mengabaikan penelitian sinema sebagai institusi. Teori-teori Metz yang pada mulanya fokus pada semiotika-film kemudian berkembang ke ranah aparatus sinema. Metz terilhami dari konsep Althusser mengenai ISA (Ideological State Apparatuses) yang berisi pemahaman akan perubahan individu menjadi subjek ideologis. Pemikiran Althusser tersebut memang sempat hip pada tahun 1970-an. Metz mencaplok gagasan Althusser mengenai aparatus serta teori Lacan mengenai hasrat untuk melihat efek ideologis yang dibentuk oleh sinema sebagai institusi.

Untuk mempelajari apa itu aparatus sinema, ada empat hal yang harus ditelusuri. Keempat hal ini bisa ditelisik satu per satu, namun bisa pula dilihat dari kelindannya satu sama lain. Pertama berkaitan dengan teknis yang meliputi spesial efek dari peralatan pembuat film seperti kamera, pencahayaan, dan proyektor. Kedua adalah ruang menonton yang seperti “goa plato”: ruang bioskop yang gelap, cahaya proyektor yang melewati atas kepala penonton, dan imobilitas yang ditawarkan kursi bioskop. Ketiga adalah film sebagai teks yang menunjukkan representasi dari gambar yang berkesinambungan, ilusi akan latar ruang dan waktu, serta sebuah kreasi untuk membuat orang percaya adanya realitas dalam layar. Sedangkan yang terakhir adalah mesin mental penonton yang membuatnya menjadi subjek yang berhasrat.[1]

Bagi penonton film seperti saya, gagasan aparatus sinema terkesan komplesk. Gagasan sinema sebagai aparatus diciptakan ketika bioskop-bioskop sedang merajai Prancis pada tahun 1970-an. Namun apakah gagasan tersebut masih relevan pada jaman sekarang? Saat ini kita bisa mengunduh film lalu menontonnya di komputer pangku (laptop). Cahaya proyektor digantikan oleh cahaya yang keluar dari layar laptop atau komputer kita. Kadang kala sound yang keluar seadanya. Bila ingin merasakan sensasi sama seperti bioskop, kita tinggal mematikan lampu kamar dan memasang earphone atau headset. Perubahan teknologi memang tidak bisa dielakkan. Namun, bukankah kehadiran sinema di laptop sehingga bisa ditonton sembari tidur-tiduran malah akan membuatnya semakin dekat dengan kita?

Apakah efek fiksi dari sinema – kemampuan sinema untuk membuat penontonnya percaya akan apa yang ia lihat dan menganggapnya sebagai yang nyata – akan hadir juga walau teknologi sudah berkembang? Pertanyaannya ini cukup rumit untuk saya jawab. Meminjam Baundry, sinema mampu membuat kita berhalusinasi – kekuatan sinema yang diumpakan seperti mimpi  mampu mengubah persepsi kita.[2] Berdasarkan pengalaman saya, ada hal-hal yang tertinggal setelah saya menonton film (entah ini bisa disebut halusinasi atau bukan). Misalnya saja ketika saya menonton Dancer In The Dark  (Lars Von Trier) selama lebih kurang dua jam, kesan visual film tersebut masih membayangi saya. Begitu selesai menutup laptop, lalu pergi berkeliling kota, warna-warna yang ada di Dancer In the Dark masih tertinggal dan mengikuti ke mana arah mata saya tertuju. Selain efek-efek sinema yang masih tertinggal, hal menarik lainnya adalah “kita tahu film itu fiksi, tapi tetap kita mempercayainya dan larut di dalamnya”. Mungkin pernyataan tersebut bisa sedikit memberi gambaran betapa sinema itu menyenangkan sehingga kita tanpa sadar sedang berhalusinasi di dalamnya.

Menambahkan perihal efek fiksi, upaya untuk membuat sinema supaya bisa mendekati “realita” nyatanya masih berlangsung sampai sekarang. Misalnya saja dobrakan dalam film The Hobbit yang menggunakan 48 fps (48 frames per second). Peter Jackson selaku sutradara menyatakan bahwa ia ingin membuat Hobbit tampak nyata. Namun usaha sutradara ini tidak disambut baik oleh penonton. Banyak yang mengritik Hobbit lebih seperti pertunjukan teater, yang mana semua yang ada dalam layar tampak nyata. Efek 48fps dianggap menghilangkan efek dream-like yang seharusnya ada dalam film. Standarnya, film-film sekarang menggunakan 24 – 30 fps sehingga mata penonton akan fokus pada satu hal saja (ada efek blur). [3] Selain eksperimentasi dengan kamera, bioskop juga memiliki eksperimennya sendiri. Setelah 3D, kini bioskop memperkenalkan 4D. Dalam bioskop 4D, kursi penonton akan bergerak sesuai gerakan yang ada dalam film. Akan ada pula gas atau semburan air bila adegan dalam film itu ada di tempat berkabut dan berair. Upaya mempererat persinggungan film dan realitas ini menarik untuk dibahas. Dan saya rasa, konsep aparatus sinema bisa membantu dalam memahami perkembangan teknologi pembuatan film dan menonton film.

Selain teknologi dan ruang menonton, aparatus sinema juga menaruh perhatian pada teks film. Bagi teoritisi lacanian awal yang mengeluarkan gagasan aparatus sinema, film adalah cermin ideologi. Ketika kita menonton film, secara tidak sadar kita dibentuk menjadi subjek yang ideologis. Film dianggap sebagai “kaki-tangan” ideologi yang dominan sehingga ia bisa membentuk cara pandang penonton terhadap sesuatu. Sampai pada pemahaman ini, saya mengiyakan kemampuan sinema untuk menyebarkan ideologi tertentu. Misalnya saja kita bisa melihat selalu ada gambar bendera Amerika di film-film Hollywood yang mengambil tema penjelajahan atau perang untuk menunjukkan betapa heoroiknya Amerika. Untuk di Indonesia, hal yang paling kentara adalah film-film yang diproduksi pada jaman Orde Baru. Misalnya saja dalam film Hippies Lokal (Benjamin S.). Film ini menceritakan susahnya menjadi gelandangan di ibukota, tetapi endingnya menunjukkan kesukarelaan ketika Satpol PP sebagai wakil negara melakukan razia lalu membawa gelandangan untuk direhabilitasi.

Untuk teks film yang menyamankan ideologi dominan seperti film-film Hollywood atau film-film industri seperti di Indonesia, saya menganggap bahwa gagasan aparatus sinema masih relevan. Penggunaan gagasan aparatus sinema untuk melihat pemilihan film-film di bioskop (ruang yang mampu mengundang massa yang banyak) mampu mengantar kita untuk melihat efek ideologi dari film. Hanya saja, gagasan aparatus sinema belum tentu relevan jika diterapkan pada film-film yang “tidak mainstream” (film yang bagi kebanyakan orang dianggap susah untuk ditonton). Ada jenis-jenis film yang menunjukkan “bolongnya” ideologi. Film-film macam ini yang belum tersentuh oleh gagasan aparatus sinema. Contoh dari film-film tipe ini, diantaranya: film-film Neorealisme Italia dan Nouvelle Vague Prancis yang mempertanyakan ideologi dominan pada jamannya; atau film-film dari David Lynch dan Andre Tarkovsky yang membuat saya sebagai penonton harus keluar dari zona “nyaman”.

[1] Ibid, hlm: 145.

[2] Ibid, hlm: 147.

[3] Tarantola, Andrew (2015). “Why Frame Rate Matters”. Sumber: http://gizmodo.com/why-frame-rate-matters-1675153198 diakses pada 16 Januari 2015

One thought on “Aparatus Sinema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s