Palupi dan Fase Cermin

Ini adalah tulisan saya untuk tugas akhir Kajian Budaya dengan pembimbingnya Pak Nardi dan Pak Pratik. Saya diminta menjelaskan bagaimana wacana tuan dalam diskursus Lacan itu terkait dengan fase cermin.

—-

Ketika Palupi dalam Apa yang Kau Tjari, Palupi? (Asrul Sani, 1969) memasuki dunia perfileman, hidupnya berubah. Sebelum menjadi artis, Palupi merasa hidupnya sepi dan tidak memiliki apa-apa. Ia ingin mendapatkan sesuatu yang membuatnya hidup. Alhasil, dengan bantuan Chalil, Palupi menjadi artis filem. Walaupun ia sudah tiga puluh tahunan ke atas, pesonanya mampu menyihir banyak orang. Tetap, Palupi belum merasa benar-benar hidup. Ia terjerumus menjadi wanita yang dipakai oleh businessman, rumah tangganya hancur, harta ia dapat, namun tetap ia tak merasa hidup.

 00-ApaYangKau CariPalupi

Palupi yang bercermin melalui Haidar, suaminya yang seorang seniman, merasa terasing. Ia mengidentifikasikan dirinya dengan Haidar lalu merasa tak punya apa-apa. Harapannya, ia memasuki dunia filem supaya bisa menjadi terkenal dan hidup senang. Namun ternyata dalam dunia filem, ada banyak nama “bapak” (name of the father) yang harus Palupi gunakan supaya ia mampu menyatu dengan yang namanya masyarakat filem. Ia memilih jalan palsu dengan bergelimangan harta, ia bisa kesana-kemari di dunia filem dan diterima masyarakat filem, namun tetap ia tak merasa puas. Selalu ada yang kurang walaupun Palupi sudah bisa memasuki dan menjadi bagian dari masyarakat filem tersebut.

 419

Dalam wacana tuan, divided subject ($) berada di bawah. $ inilah si anak yang telah melewati fase cermin, fase dimana ia bisa melihat dirinya sendiri tetapi bukan sebagai diri yang utuh, yang ia lihat adalah dirinya yang tak lengkap yang terbelah yang teralienasi yang mencari-cari penyatuan kembali dengan “ibunya” – dengan jouissance. Dalam wacana tuan, $ inilah yang berfungsi sebagai truth, yang mendorong seseorang untuk menjadi agen dalam wacana tuan. Ketika $ ini ingin berbicara, ia harus menggunakan penanda yang ada dalam masyarakat – harus menggunakan S1 atau the name of the fathers. Ketika $ menjadi S1 dan menggunakan bahasa tersebut, maka S1 inilah subject yang berpura-pura telah menjadi utuh dan tak terbelah. Walaupun dalam pelaksanaanya tidak semua kebenaran bisa dikatakan, namun dengan hasil banyak kompromi, maka $ menjadi S1.

Setelah ia berhasil berkompromi, ia ingin berbicara dan bergabung dengan Liyan, the big Other – tempat dimana semua bahasa dan kata-kata tersedia di masyarakat. Dalam wacana tuan ini, Liyan tersebut disimbolkan dengan S2 – ikatan semua penanda dan letak ilmu pengetahuan. Alih-alih menghasilkan produk yang bermakna bagi subjek yang berbicara (S1), penyatuan dengan S2 malah menghasilkan object petit a, objek yang dihasratkan atau objek yang membuat subjek berhasrathasil sampingan dari sisa-sisa yang dihasilkan oleh S2. Tentu saja S1 sebagai agen tidak bisa melihat hasil sampingan ini. Maka yang terjadi adalah dominasi yang terus-menerus karena pencarian akan a kecil ini akan terus dilakukan oleh subjek terbelah. Seperti menunggangi angin, dalam wacana ini subjek yang terbelah hanya akan terus mencari dan mencari, namun ia tak akan pernah menemukan apa yang ia cari. Untuk mendapatkan apa yang ia cari, maka ia harus berpindah wacana.

Yogyakarta, Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s